Feeds:
Posts
Comments

Bersandiwara

image

Beramah-tamah dan bermanis mulut adalah dua hal berbeda yang hanya dipisahkan seutas benang tipis. Tersenyum di kala duka dan bersandiwara juga merupakan dua hal berbeda yang berwajah nyaris sama. Yang membedakan adalah hati yang melahirkannya.

Ramah itu wajib hukumnya. Itu peraturan tak tertulis. Begitu menjejak teritorial gereja, cheerful_mode activated. Tak ada waktu buat hanged apalagi restart. Sapaan, senyuman, perhatian. Didamba diam-diam. Kadang dituntut secara terang-terangan. Luput melakukannya? Bersiaplah menjadi topik gunjingan sepanjang minggu, bahkan berbulan-bulan sesudahnya. Continue Reading »

Advertisements
permen

gbr dari lifull-produk.id

Ah. Apa hubungan antara ketiganya? Mudah saja menebaknya. Coba hadir di satu sesi ibadah. Begitu kata ‘amin’ terdengar seusai doa memasuki Firman Tuhan, kita pasang telinga baik-baik. Ada bunyi gemerisik bungkus-bungkus permen yang dibuka (dan ditawarkan ke kanan kiri). Ada tangan-tangan yang lebih gesit menjelajah akun sosmed daripada menekuni Alkitab online. Satu lagi yang tak kalah heboh, bunyi ceplas-ceplis yang melenting runcing ke seluruh ruangan … yang berasal dari benda mungil berjudul gunting kuku. Continue Reading »

memar ungu

Di awal kuliah, pernah jadi jemaat yang datang ke gereja tiap Minggu aja. Semester kedua, mulai melayani di bidang pujian. Habis itu, di sekolah minggu. Menyusul literatur. Daaan seperti yang sering terjadi … kegiatan melar dan melebar ke mana-mana. Nah. Ceritanya dimulai. Continue Reading »

burung dara

Sudah lewat waktu makan malam. Pukul setengah sembilan baru kami masuk ke warung tenda lesehan itu. Menu yang kusantap adalah burung dara goreng. Disajikan bermandi minyak disertai lalapan. Citarasanya gurih, apalagi di lidah si bungsu yang baru pertama kali mencicipi burung dara.

Setelah santapan yang tersaji berpindah ke perut, jari jemari yang licin berminyak pun dibasuh di mangkuk kecil berisi air bercampur jeruk nipis. Mencuci tangan dengan cara begitu memang tidak bisa cepat. Sehabis itu masih harus diseka dengan tissue basah pula agar sisa minyaknya hilang tuntas.

Nah, sewaktu tangan ini masih sibuk di dalam mangkuk, meluncurlah pemuda itu ke dalam tenda, tersungkur jatuh dari motor yang diboncengnya. Continue Reading »

Anak pendeta

“Adakah di sini yang anak pendeta atau hamba Allah, penginjil, atau pelayan Tuhan? Apakah bisa memberi kesaksian tentang tantangan kehidupan keluarga yang dialami? Tantangan yang tidak lebih kecil dari keluarga rata-rata? Di depan umum harus bermanis-manis; kehilangan banyak waktu untuk ….” Pertanyaan ini terlontar di kolom komentar sebuah group tertutup di akun facebook milikku. Aku tergelitik untuk segera merespon, namun kuputuskan untuk menundanya. Nanti saja kuberi link-nya.

Aku tak bisa menjawab dengan tepat, sebab aku bukan anak pendeta. Tapi respon anak-anakku bisa menjadi ‘sampel’ jawaban dari pertanyaan itu. Continue Reading »

Maafkan aku, Ibu

Siang itu seperti ratusan siang lainnya aku duduk mematung di dalam sebuah becak yang membawaku ke toko milik ibuku. Masih dengan debar jantung yang berpacu. Aku memang selalu gelisah bila hendak bertemu Ibu. Namun kali ini kegelisahanku memiliki alasan yang berbeda.

Jalanan pasar sudah sepi. Turun dari becak dan melangkah ke dalam toko, tanganku terasa dingin. Begitu beradu pandang dengan Ibu, aku mengajaknya untuk berbicara empat mata. Tatapan heran Ibu tak melunturkan tekadku. Kali ini aku tak datang sebagai seorang anak SMA yang menagih uang saku, atau memintanya membubuhkan paraf di buku ulanganku. Kali ini anak SMA ini datang dengan dada yang lebih bergemuruh dari waktu-waktu sebelumnya. Dengan dua telapak tangan yang terasa jauh lebih dingin pula.  Continue Reading »

Tiga bekas luka

“Kok ndak bisa lupa ya, Bu? Sudah berusaha, tapi kok masih inget terus …,” keluh wanita muda itu gundah.

Aku tersenyum. Lalu menunjuk bekas luka di tanganku. Waktu kecil aku tersungkur di pasir saat bermain kejar-kejaran. Butiran pasir bercampur darah menggumpal merah kecoklatan di punggung tanganku. Mengukir luka di tiga tempat. Continue Reading »

Itu kata seorang teman yang mengomentari salah satu artikelku. Itu pula yang kusampaikan pada seorang rekan blogger yang cenderung ‘bete’ setelah sekian lama memberangus hasrat menulisnya.

“Begitukah, Mbak?? Serius nih?” ketiknya spontan di kolom komentar Facebook. Continue Reading »

Hampir jam tiga pagi. Masih mengetik ditemani TV yang nyaris tak kugubris. Aku cuma butuh suaranya saja.

Suka terjaga sampai subuh. Walau tidak setiap hari. Membaca atau menulis paling enak setelah orang lain dibuai mimpi.

Teringat masa kecil saat baru berhasil membujuk Mami membelikan mesin ketik. Continue Reading »

Tak pernah ingin menjadi ibu gembala. Salut buat istri-istri pendeta yang berdoa agar suami mereka dipilih menjadi gembala. Butuh keberanian yang besar untuk meminta hal itu. Continue Reading »