Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘penggembalaan’ Category

permen

gbr dari lifull-produk.id

Ah. Apa hubungan antara ketiganya? Mudah saja menebaknya. Coba hadir di satu sesi ibadah. Begitu kata ‘amin’ terdengar seusai doa memasuki Firman Tuhan, kita pasang telinga baik-baik. Ada bunyi gemerisik bungkus-bungkus permen yang dibuka (dan ditawarkan ke kanan kiri). Ada tangan-tangan yang lebih gesit menjelajah akun sosmed daripada menekuni Alkitab online. Satu lagi yang tak kalah heboh, bunyi ceplas-ceplis yang melenting runcing ke seluruh ruangan … yang berasal dari benda mungil berjudul gunting kuku. (more…)

Advertisements

Read Full Post »

memar ungu

Di awal kuliah, pernah jadi jemaat yang datang ke gereja tiap Minggu aja. Semester kedua, mulai melayani di bidang pujian. Habis itu, di sekolah minggu. Menyusul literatur. Daaan seperti yang sering terjadi … kegiatan melar dan melebar ke mana-mana. Nah. Ceritanya dimulai. (more…)

Read Full Post »

Siang itu seperti ratusan siang lainnya aku duduk mematung di dalam sebuah becak yang membawaku ke toko milik ibuku. Masih dengan debar jantung yang berpacu. Aku memang selalu gelisah bila hendak bertemu Ibu. Namun kali ini kegelisahanku memiliki alasan yang berbeda.

Jalanan pasar sudah sepi. Turun dari becak dan melangkah ke dalam toko, tanganku terasa dingin. Begitu beradu pandang dengan Ibu, aku mengajaknya untuk berbicara empat mata. Tatapan heran Ibu tak melunturkan tekadku. Kali ini aku tak datang sebagai seorang anak SMA yang menagih uang saku, atau memintanya membubuhkan paraf di buku ulanganku. Kali ini anak SMA ini datang dengan dada yang lebih bergemuruh dari waktu-waktu sebelumnya. Dengan dua telapak tangan yang terasa jauh lebih dingin pula.  (more…)

Read Full Post »

“Kok ndak bisa lupa ya, Bu? Sudah berusaha, tapi kok masih inget terus …,” keluh wanita muda itu gundah.

Aku tersenyum. Lalu menunjuk bekas luka di tanganku. Waktu kecil aku tersungkur di pasir saat bermain kejar-kejaran. Butiran pasir bercampur darah menggumpal merah kecoklatan di punggung tanganku. Mengukir luka di tiga tempat. (more…)

Read Full Post »

Gayanya memang begitu. Kalem. Tak pernah meledak-ledak. Sejak pertama aku melihatnya berdiri di belakang mimbar semasa kecilku, sampai puluhan tahun kemudian, gayanya tetap sama.

Semasa kuliahku, seorang senior memujinya kala ia berkotbah di gereja kami. Katanya, sulit bagi seorang pengkhotbah yang tidak punya gaya berapi-api untuk mempertahankan perhatian pendengarnya, tetapi pengkhotbah wanita ini sanggup melakukannya. (more…)

Read Full Post »

“Apa kabar hari ini?”
“Luar biasa.”
“Apa kabar hari iniii?”
“Luar biasa!”
“Sekali lagi … APA KABAR HARI INIII???”
“LUARRR BIASAAA!!!” (more…)

Read Full Post »